(Day 7) Blind Date




#Day7ranimenulis

#ranimenulis


Blind Date? Pernah

Pertama dan terakhir kali lah itu. Jaman dulu teknologi dan sosmed belum kayak sekarang ya. Paling banter tu MMS lah. Jadi lanjut dari cerita kemaren, dimana pacar pertamaku itu diambil Tuhan dan aku mulai fokus pelayanan lagi kan ceritanya.

Jadi ini kisah ketemu sang pacar kedua, yang sekarang jadi suamiku. Kenalan di sms, 2 hari ngobrol dia ngajak ketemuan. Ya itu Blind date. 

Kisah lengkapnya bisa baca disini

Itu anggaplah aku beruntung. Blind date bertemu dengan orang yang baik. Tapi jangan harapkan semua kisah akan berakhir seperti kisahku. Kalau nanti anak-anakku ada yang mau blind date, jelas kurasa aku bakal gak bolehin sih. Kalaupun mereka maksa, akan aku ikuti diam-diam. wkwkwkwk.

Sebenernya ini jadi belok tema, cuma aku sebenernya agak worry sama dunia sekarang. Kebayang gak sih semua orang jahat tampak bertebaran dimana-mana. Predator sex, predator anak-anak, belum lagi anak-anak remaja yang sungguh bebas sekali gaya hidupnya, orang tua yg acuh dengan parenting. 

Kadang aku khawatir dengan jodoh mereka ini. Jodoh para anak-anakku ini loh.

Iya kejauhan, cuma bener deh melihat kualitas para orang tua dan anak-anak sekarang, yang bener dan gak bener itu jumlahnya banyakan gak benernya. Lihatlah betapa doktrin bahwa laki adalah raja itu masih mendarah daging. Tidak aku bukan bicara tentang feminisme. Tapi ada banyak hal kompleks yang menjadi dasar standarku untuk memilih pria. Dan terus terang melihat lingkungan sekitar dalam mendidik para anak lelaki mereka, itu buat aku worry dengan generasi anak-anak. 

Aku didik mereka susah payah dengan konsep parenting yang njlimet dan jatuh bangun, kurasa aku ga rela mereka menghabiskan waktu dengan orang yang salah.

Lebay ya? hehe buat yang belum mendalami dunia parenting yg begitu kompleks dan luas yahhh kita gak bisa diskusi sih. Agree to disagree ajah.

Cuma kurasa seharusnya aku ga khawatir tentang hal ini bukan. Bukankah jodoh itu sudah ditentukan oleh Tuhan? Bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik asal kita peka dan bukan dipeka-pekain dalam memilih jodoh?

Dan satu yang selalu aku pesen sama anak-anak. Pantaskan dirimu dan jangan cari jodoh yang kualitasnya kurang dari papamu. Hahahaha. Aku tidak bicara soal materi, aku bicara soal kedewasaaan karakter, soal kedewasaan emosi. Kurasa aku tidak perlu khawatir, karena Papanya sudah memberi contoh standar bagaimana mereka harus memilih. 

---------------------------------------------------------- 


Haaaaa ini melenceng dari tema, dan aku berhutang 2 tema lagi. Masih lumayan lah.. daripada gak nulis sebulan hahaha

~ Writing is Healing


sebenarnya ini adalah challenge di salah satu grup komunitas. Karena saya tidak berhasil menyelesaikan challengenya, tapi saya rasa ini suatu hal yang bagus untuk dikerjakan.
Maka, saya akan memulai challenge ini di blog.


Harapannya apa ya.. saya ingin ini menjadi tumpahan inspirasi dan bagian dari aktualisasi diri saya. 


Comments

Postingan terpopuler

Mesin Jahit Portable Mini S2 bermasalah? Perbaiki sendiri yuk

[Review] Laneige Water Bank series ~ Trial Kit

Resign dari PNS