Bangku Pojok Sekolah

Pic from google

“Hei, kamu gak ke sekolah hari ini?” Nada mengetik sebuah pesan di gawainya

“gak. lagi ada keperluan. maaf ya” sebuah pesan balasan muncul

Nada mendesah, kecewa “Oh, Oke. See you next week ya” 

sebuah balasan langsung muncul kembali “oke” 

Nada menghela nafas panjang. Sekolahan hari ini jadi terasa begitu membosankan. 
Ia mulai membuka facebook, menghalau perasaan aneh yang muncul menyelinap di hatinya. Apa ini? Rindukah? Rindu yang tak seharusnya ada. Bagaimana ia bisa merindukan lelaki lain selain suaminya? 

“Ahh bel sekolah hari ini terasa panjang sekali” gumam Nada dalam hati sembari melihat jamnya.

—————————————————————

4 bulan lalu pertemuan Nada dengan Rio. Seorang lelaki usia pertengahan, sederhana, bukan tipe lelaki yang akan membuatmu berpaling atau memperhatikan ketampanannya. Biasa saja. Terlalu biasa. Rio sedang duduk di pojok bangku sekolah itu, sendirian asik melihat gawainya. Tapi hanya ada satu tempat duduk tersisa, di sebelah Rio dan Nada sudah lelah berdiri.

“Permisi. saya boleh duduk disini?” Nada bertanya perlahan takut mengganggu Rio

“ohh silahkan… silahkan…” ujar Rio sambil menggeser tubuhnya

“Nunggu anak,Pak? Kelas berapa?” tanya Nada berbasa-basi

Rio memalingkan kepalanya, melihat Nada dengan wajah agak terkejut karena diajak bicara. Nada merasa agak jengah diperhatikan langsung sedekat itu.

“Iya, anak saya kelas 6. Mom anaknya kelas berapa?” tanya Rio sambil tersenyum

“Kelas 1” Nada balas tersenyum

“Saya Papa Andri” Rio mengulurkan tangannya

“Mama Nadine” ucap Dana sambil menjabat tangan Rio

——————————————————————

Ntah sejak kapan, tempat pojok itu akan menjadi tempat Dana dan Rio untuk bertemu. Seminggu sekali. Setiap hari Senin. Waktu dimana mereka mengantarkan anak masing-masing ke sekolah dan menunggu disekolah. Dengan cepat mereka menjadi akrab, mengobrol banyak hal, saling bercerita dan menertawakan kisah konyol keseharian mereka.

“Papa Andri kenapa gak gabung sama ibu-ibu yang itu?” Nada menunjuk sekelompok ibu-ibu yang sedang asik berbicara dan tertawa keras. 

“lah Mama Nadine sendiri kenapa gak gabung sama mereka?” tanya Rio dengan ekspresi geli.

“Ah.. nanti disuruh pake dresscode tiap ke sekolah. Repot.”

“Hahahahahaha… gitu ya?” Rio tergelak menampilkan deretan giginya yang rapi

“Papa Andri kenapa gak pernah gabung sama yang lain?”

“Ya, gak nyambung aja. Ibu-Ibu kan omongannya ya gitu. Gak nyambunglah sama saya hahahaha. Disini juga jarang ada bapak-bapak nongkrong” Rio tertawa lagi

“Eh, saya ini juga ibu-ibuuu kaaannnn. Kita gak nyambung juga dong” Nada merengut. Pura-pura kesal.

“Yaaa.. tapiii kamu… beda” Ujar Rio sambil memalingkan wajahnya melihat kearah lain
Nada terdiam. Hatinya terasa hangat. 

---------------------------------------------------

“Papa Andri ini sebenernya usianya berapa sih?” Nada bertanya di suatu hari

“Ahh udah tuaaa. Pasti tuaan saya deh” Andri mengelak menjawab

“Ihhh berapa sih? Gak mungkin udah 60 juga kan?”

“Kelahiran 1975. Mama Nadine kelahiran berapa?” 

“Hahahahahahaha ternyata beneran udah tua ya” Nada tergelak

Rio tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal “Salah jawab saya”

“Kita beda 12 tahun. Bayangkan! Hahahaha. Maaf suhu kalau saya pernah tidak sopan.” Nada masih tertawa terbahak

Rio tanpa sadar memperhatikan Nada, memperhatikan saat Nada tertawa. Tawa Nada sungguh menular. Melihatnya tertawa, Rio jadi ikut tersenyum.

Nada jadi mulai membawa bekal setiap senin. Cemilan ringan untuk Rio. 

“Jadi kenapa Papa Andri yang ke sekolah setiap senin?” tanya Nada sambil mengupas buah jeruk yang dibawanya

“Mama Andri kerja di sebuah perusahaan internasional. Tidak bisa ditinggalkan. Pekerjaan saya lebih fleksibel, maklum usaha kecil saja dirumah. Bisa saya tinggal sebentar ada karyawan. Senin itu memang sudah kesepakatan kami dari awal untuk ada satu hari kami akan antar Andri kesekolah. Mama Nadine sendiri gimana”

“Apanya? Saya emang gak punya kerjaan hahahaha. Ibu rumah tangga saja. Suami saya kebetulan bekerja di pertambangan jadi ya pulang sebulan sekali aja. Untuk hari senin, yang biasa antar jemput Nadine gak bisa. Jadi saya yang antar jemput” Nada menjelaskan

“Oh i see. Eh, panggil saya Rio saja ya”

“Ahhh gak bisa gituuu. Masa panggil nama ke yang lebih tua jauh” Nada menutup muka sambil menahan tawa

“Wahhhh ini baru namanya gak sopan! Bilang saya tua!” Rio pura-pura marah

“Papa Andri panggil saya Nada. Saya panggil Papa Andri ummm…. Om saja ya? Hahahaha” Nada tergelak menertawakan Rio yang mulai merengut

“Rio”

“Bapak Rio?”

“Rio”

“Abang Rio?”

“Rio”

“Kakak Rio?”

“Rio. Selain itu lebih baik kita masih panggil Papa Andri dan Mama Nadine saja lagi”

“Astaga. Kamu bisa marah juga?” Nada pura-pura terkejut sambil melotot
Mereka tertawa bersama. 

————————————————————

Sungguh hari Senin akan menjadi hari yang istimewa untuk Nada. Dia menjadi bersemangat. Mulai membuka kembali buku resepnya untuk membuat aneka kudapan. Tentu saja dia akan membuatnya di hari Minggu. Agar hari Senin bisa dibawa bukan. Rasanya menyenangkan melihat ada seseorang yang menyukai dan memuji masakannya. Nada tidak ingat kapan terakhir kali ada yang memuji masakannya. Suaminya saat dirumah, masih tetap sibuk mengurusi pekerjaannya. Terkadang sibuk main permainan di gawainya. 

Tak lama kemudian, Nada dan Rio sudah bertukar nomer telepon. Nada dan Rio terasa seperti kawan lama yang bisa bicara tentang apapun. Terkadang mereka masih berbincang di whatsapp. Apa saja bisa mereka bicarakan.

“Jadi istrimu belum pulang? Andri sudah tidur?”

“Belum. Biasa akhir bulan begini dia akan pulang larut malam. Mungkin sekitar jam 11 nanti. Andri sudah tidur. Kamu belum tidur?”

“Belum. Masih menulis sesuatu”

“Nulis apa?”

“Jangan ketawa tapi”

“Gak”

“Puisi. TIba-tiba aku ingin menulis puisi”

“wow”

Nada menatap layar gawainya. Bingung mau membalas apa. Lalu memutuskan untuk mengirimkan emoticon senyum.

😊 lanjutkan kalau begitu. Nanti aku lihat ya hari Senin” Balas Rio. 

Nada tersenyum. Ada perasaan bersalah menyelinap dihatinya. Jam menunjukkan pukul 21.00 dan dia malah berbalas pesan dengan lelaki lain di whatsapp. Suaminya masih setiap hari meneleponnya, di jam yang sama di sore hari. Tetapi dia malah menantikan pesan dari seseorang yang lain.

“Ah, tapi kami hanya mengobrol biasa bukan? Bukan suatu obrolan menjurus kok” tepis Nada dalam hatinya

“Meski obrolan biasa, tapi kalau kamu sudah merasa ada yang lain didalam hatimu bukankah itu salah?” kata hatinya memberontak

Nada memukul bantalnya. Kesal. Menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghilangkan kegalauannya. Lalu memutuskan untuk tidur. 

————————————————————

“Kamu gak kesini?” Pesan dari Rio muncul di gawai Nada

“Tadi aku udah ke sekolah sama suamiku. Nanti siang baru jemput lagi” Balas Nada

“Oh oke. Asik dong yang suaminya pulang”

Nada tak membalas pesan Rio.
“Iya, seharusnya aku merasa senang. Tapi kenapa aku tidak sesenang itu?” keluh Nada dalam hatinya.

Siang harinya Nada ke sekolahan menjemput Nadine bersama suaminya. Toni, pria berwajah tampan. maskulin. Tipe idaman semua wanita. Nada langsung jatuh hati saat pertama kali berkenalan dengan Toni. Nada sendiri berwajah manis, tipe perempuan supel yang sangat mudah bergaul dengan siapapun. Tak lama mereka langsung menjadi sepasang kekasih. Toni terpikat pada sifat Nada yang menyenangkan Nada terpikat pada kemisteriusan Toni dan tentu saja ketampanan Toni.

“Ah, kenapa Rio masih ada disitu” Nada berusaha memalingkan wajahnya tapi Rio sudah terlanjur melihatnya dan melambaikan tangannya.

“Siapa itu,ma?” Tanya Toni

“Orang tua murid disini” Nada menarik Toni mengajaknya bertemu Rio

“Hei, kenalin ini Papa Nadine. Ini Papa Andri” Nada mengenalkan mereka berdua

Toni dan Rio berjabat tangan. Mereka saling tersenyum simpul dengan tatapan saling menilai satu sama lain.

Bel berbunyi. Nada menghembuskan napas lega. Matanya mulai mencari Nadine.

———————————————————

“Papa gak suka sama siapa itu tadi disekolah” Ujar Toni di mobil dalam perjalanan pulang

“Lah baru dikenalin kok gak suka?”

“Gak suka aja”

“Gak suka kan harus ada alasan dong, Pa” Nada tertawa meski dalam hatinya dia was-was mengingat apakah dia bereaksi berlebihan saat mengenalkan mereka

“Pokoknya gak suka. Ada yang papa gak suka dari mukanya. Gak tau kenapa” Toni mendengus kesal

“Hahahaha Papa ni aneh” Nada tertawa getir. Tentu saja dia tau yang dimaksud Toni. Apakah dia bisa merasakan bahwa istrinya mulai main perasaan dengan lelaki yang baru saja diperkenalkan padanya tadi.

Selama Toni dirumah, Nada dan Rio tidak pernah mengobrol lagi di whatsapp. Meski tidak pernah membahas hal ini, seperti sudah ada kesepakatan tak tertulis, saat ada pasangan masing-masing dirumah, maka mereka tidak akan mengobrol atau mengirim pesan.

———————————————————

Hari ini Nada tidak ke sekolah. Rio mencari Nadine tapi Nadine pun tampaknya tidak bersekolah.

“Hai, Nadine gak sekolah?” Rio bertanya di whatsapp

“iya. Gak ada yang bisa nganter.”

“Kamu?”

“Kamu cari aku atau cari Nadine?” 

Rio menatap gawainya bingung mau membalas apa. Selama ini dia tidak ingin membahas mengenai hubungannya dengan Nada. Mereka hanya berteman bukan? Obrolan mereka hanya obrolan biasa bukan? Bolehkah jika dia membalas bahwa ia mencari Nada? Apakah itu jawaban tidak lazim untuk seorang teman? Teman lawan jenis tapi saling merindukan?

“nyari dua-duanya lah” Rio membalas

“Aku lagi sakit. Badanku demam sepertinya radang” balas Nada
(Ah, seharusnya tidak perlu kukatakan sedetail itu kan?)

“udah minum obat?”

“Udah. Tapi tadi Nadine jadi gak ada yang antar. Dia juga flu.”

“Istirahatlah kalau gitu. Minum banyak air hangat”

“Oke”

Nada resah. “Rio hanya perhatian biasa bukan? Itu hanya kata-kata biasa seorang teman. Jangan baper, Nada. Jangan baper!” Nada meyakinkan dirinya untuk tidak memikirkan Rio. Ah, rasanya ada yang kurang hari ini. Hari ini hari Senin dan dia tidak bertemu Rio.

Malam harinya Nada tidak bisa tidur, sepertinya ia tertular Nadine. Hidungnya tersumbat dan kepalanya mulai sakit berdenyut. Ting. Gawainya berbunyi. Pesan dari Rio. Nada melihat jam. Sudah pukul 22.22 kenapa Rio mengirim pesan jam segini?

“Hai, belum tidur kah? WA mu online”

“Belum. Aku gak bisa tidur. Kepalaku sakit. Kamu sendiri? tumben belum tidur?”

“Nunggu Mama Andri. Dia belum pulang”

“oh” Nada membalas pesan Rio singkat. Kepalanya sakit dan hatinya terasa ikut sakit. Cemburukah ini?

“Tidurlah,sudah malam, Na..”
(Orang yang aneh. Dia mengirim pesan jam segini lalu hanya untuk menyuruhku tidur?)

“Gak bisa. Gak ada yang nina boboin. Kalau sakit aku jadi gak bisa tidur kalau sendirian”
(Sekalian saja kukatakan begitu bukan? Ah kalau sakit, aku jadi manja begini)

“Suamimu?”

“Kamu lupa dia dimana? dia masuk zona WIT. Jam segini dia sudah ngorok tak peduli apapun” 

Gawainya berbunyi. Panggilan masuk dari Rio. 
(Loh, Loh, kenapa dia jadi telepon?)

Dengan perlahan Nada mengangkat teleponnya

“Ya halo?”

“Hei”

“Kenapa telepon?”

“Nemenin kamu tidur”

“hah? gimana?” Nada memicingkan matanya berusaha konsentrasi dengan kata-kata Rio takut salah mendengar

“Katanya tadi pengen ada yang nina boboin? TIdurlah, aku akan tutup telepon saat kamu sudah tidur”

“Trus?”

“Ayo, cepat posisi tidur sana! Aku nyanyikan lagu nina bobo ya?”

“Tidak usah! Eh btw ya, aku baru pertama kali mendengar suaramu di telepon. Bagusan di telepon hahahaha” Nada tergelak

“Sialan. Hahahaha. TIdur ya. Aku temani sampai kamu tertidur. Good Night,Nada..” 

Nada memejamkan matanya, dengan telepon di telinganya “Good Night, Rio…” 


—————————————————————

Pagi hari whatsapp Rio masuk “Gimana badanmu?”

“sudah baikan. Thanks ya” balas Nada

😊

(Hanya senyum? Setelah memberi perhatian, lalu dia hanya membalas dengan senyum?) Nada melemparkan gawainya ke sofa. Dia mengambil sebungkus kopi instan, menyeduhnya. Harum kopi mulai tercium. Nada menarik nafas panjang, menghirup aroma yang selalu bisa membuatnya tenang. 

Pernah suatu hari Nada membawa kopi sachet lengkap dengan gelas plastik dan air panas di termos ke sekolah. Dan Rio hanya mengernyit melihat Nada menyeduh kopi

“Kenapa?” Tanya Nada

“Aku gak bisa minum kopi” ujar Rio

“Whaatttt??? masa sih?” Nada tergelak

“iya, cemen ya? Aku cuma minum air putih. Teh saja jarang” Rio tersenyum simpul

“Baiklah. Kalau begitu kuberikan air putih hangat spesial ini buatmu” Nada tertawa sambil menuangkan air ke gelas Rio

Mengingat itu Nada jadi tersenyum sendiri saat menghirup kopinya. Kenapa semua hal jadi mengingatkannya akan Rio?

—————————————————————

Sekolah sudah mau kenaikan kelas. Akan ada pentas seni di sekolah. Seperti biasa akan ada penampilan dari murid tiap kelas dan perwakilan beberapa orang tua juga.

“Nad, tampil yuk”

“Tampil apa?”

“pentas seni”

“Ih.. ngapain kita?”

“Duet yuk.. aku main gitar, kamu nyanyi”

“aku ga bisa nyanyi” elak Nada

“Aku tau kamu bisa. Kamu sering bersenandung setiap kita memutar lagu. Come on, Lagian Andri tahun terakhir ni di SD. Rencana SMP ini dia mau pindah sekolah” 

“Hah? pindah? kenapa gak lanjut disini?” Nada tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

“Aku dan Mamanya dari awal memang memutuskan SMP ditempat lain. SMP Favorit sih. Kemaren Andri sudah mengikuti tes masuknya dan ternyata dia lolos. Aku cuma belum info ke kamu” Ujar Rio dengan nada perlahan

“Ohhh… begitu…” Nada memalingkan mukanya, melihat lapangan sekolah yang ada didepannya. 

Rio melihat perubahan sikap Nada, bertanya perlahan “Nad, kenapa? kok diam?”

“I’m okay. Cuaca lagi panas, aku tiba-tiba merasa ga enak badan” jawab Nada singkat

Sisa waktu itu lebih banyak dihabiskan dalam diam.

—————————————————————

Hari-hari selanjutnya Nada gelisah, dia tidak bisa fokus mengerjakan apapun. Memikirkan Rio akan pergi, dan dia tidak bisa bertemu dengannya lagi membuat Nada begitu sedih. Kenapa rasanya ia begitu kehilangan. Tiba-tiba ada ruang kosong di hatinya. Apakah Rio selama ini sudah memasuki hatinya? Atau ini hanya perasaannya saja? Bagaimana dengan Rio? Rio hanya mengganggapnya teman biasa bukan? Teman untuk mengobrol menghabiskan waktu. Mengusir kesepian. Apakah Nada juga sebenarnya menganggap Rio seperti itu? Teman yang hanya untuk mengusir kesepiannya? Karena mempunyai pasangan yang sama-sama sibuk? 

“Rio, aku mau nanya” Nada mengirim pesan wa

“Tumben biasa juga langsung nanya haha”

“ini serius”

“oke”

Rio menatap gawainya menerka-nerka apa yang ingin Nada tanyakan. Serius katanya? Ada hal serius kah yang perlu dibahas? Rio mulai cemas menatap Whatsappnya yang belum terbalas.

Nada sedang menimbang apa yang ingin ia tulis, mulai mengetik pesan, menghapusnya. Mengetiknya kembali. Lalu menghapusnya. Pada akhirnya dia hanya bisa menulis sebuah kalimat tanya 

“Rio, sebenernya kita ini teman atau bukan?”

Rio menatap gawainya bingung. Dia bukan tidak mengerti maksud Nada kemana. Dia hanya jengah membahas ini. Bukankah mereka sama-sama merasa nyaman mengobrol, tanpa menyinggung kehidupan masing-masing, dan rasanya tidak perlu memperjelas hubungan ini apa bukan?

“teman dong” jawab Rio singkat. Berharap Nada tidak mempertanyakan lebih lanjut lagi

“Teman biasa tidak akan sering mengobrol di wa sampai larut malam, Rio. Karena kita pria dan wanita. Kita punya pasangan. Ada batasan waktu seharusnya..” Balas Nada

Rio tidak membalas. Dia tidak mau membahas ini. 

“Rio jawab dong. Aku ini buatmu teman biasa? Sama seperti temanmu yang lain kah? Apakah hanya perasaanku saja kalau kamu itu membuatku merasa istimewa?” Akhirnya Nada menuliskannya. Sebuah pertanyaan yang dari lama ingin ia tanyakan.

“Aku ga tau,Nada. Aku gak mau bahas ini ah” Elak Rio

“Please..” 

“Yang aku tau, aku nyaman sama kamu. Kita bisa diskusi banyak hal. Aku bisa cerita banyak ke kamu dimana aku jarang bercerita kalau ke orang lain. Tapi untuk memikirkan lebih dari itu, aku gak bisa”

“Rio, aku gak nanya itu. Aku tau kita punya kehidupan masing-masing. You love your wife and so do I. Aku paham”

“Iya, hubungan ini gak mungkin”

“Agree. Aku cuma mau tanya apakah beberapa bulan ini ada artinya untukmu? Atau ini hanya sepihak saja”

“Ya pasti ada bedanya. Tapi buat apa kita bahas? Apakah tidak bisa kita berteman dan mengobrol seperti biasa saja? Tanpa harus menjelaskan tentang ini?”

“Fine. Oke” Nada menutup gawainya. Pergi menyeduh segelas kopi. Menghirup aromanya, berharap aroma kopi akan mengusir kegalauan hatinya.

Rio ada benarnya juga. Untuk apa dibahas, toh hubungan ini tidak akan berlanjut kemana-mana. Rio dan Nada sama-sama punya keluarga. Mereka saling mencintai pasangan masing-masing. Nada dan Rio hanyalah sepasang manusia kesepian yang membutuhkan teman mengobrol. Bertemu di waktu yang salah, ataukah waktu yang tepat untuk saling memberi setitik arti dan secercah semangat dalam hidup mereka yang mulai terasa rutinitas membosankan? Sesingkat itukah pertemuan mereka? Apakah suatu saat mereka akan saling melupakan? Apakah pertemuan mereka selama ini hanyalah sebuah kisah manis yang akan dikenang saat mereka tua nanti?

Beberapa hari selanjutnya Nada dan Rio tidak saling mengirim pesan. Berusaha menghilangkan pikiran mereka yang berkecamuk, atau menghilangkan perasaan yang sudah mulai tumbuh?

——————————————————-

Hari ini adalah hari pentas seni. Acara sudah sampai di penampilan orang tua murid. Perwakilan dari orang tua kelas 6, Rio membawa gitarnya keatas panggung. Nada melangkahkan kakinya menaiki panggung. Terdengar petikan gitar RIo, dan Nada mulai melantunkan lagu. 

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
'Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Sebuah lagu “Tentang Kita” dari Noah. Selesai tampil, Nada dan Rio kembali ke tempat duduk favorit mereka. Bangku pojok itu. Rio mengulurkan tangannya, Nada menjabat tangan RIo. 

Mereka tersenyum dan saling berpandangan.

“Thank you ya udah mau tampil bareng” ujar Rio

“Sama-sama. Terimakasih juga untuk ini. Setidaknya aku jadi punya suatu kenangan manis untuk dikenang nanti. Sepertinya aku sekarang jadi terkenal diantara orang tua murid lain. Aku harus siapin dresscode nih kayaknya”

Mereka tertawa bersama.

“Nad, kedepannya gimana?” tanya Rio

Nada memalingkan mukanya menghadap Rio. Menatapnya dalam.

“Kita udahan aja ya? Rasanya kalau dilanjutkan, aku takut terbawa perasaan, nanti kalau makin dalam, kita sama-sama repot loh ngadepinnya” Nada mengerlingkan matanya

Rio tertawa 

“Begitu ya?” Rio menatap langit. 

Cuaca hari ini terik sekali. Mereka sama-sama terdiam menikmati sisa acara pentas seni. Kisah mereka selesai sampai disini. Tapi disitu, dipojok bangku sekolah itu, akan selalu tersimpan cerita mereka berdua. Bahwa ada waktu mereka saling memberi arti. Kisah manis yang akan dikenang sampai kapanpun didalam hati mereka.

Comments

Postingan terpopuler

Mesin Jahit Portable Mini S2 bermasalah? Perbaiki sendiri yuk

[Review] Laneige Water Bank series ~ Trial Kit

Resign dari PNS