Rabu, 14 Desember 2016

Ibu Pekerja vs Ibu Rumah Tangga

Kalau dulu ditanya apa cita2 saya pasti jawab jadi guru mengikuti jejak Bapak. Gak pernah tuh kepikiran jadi ibu rumah tangga. Mama saya sendiri adalah seorang ibu pekerja (suster puskemas) yg pergi pagi pulang sore. Saat SMU mau masuk kuliah, dikarenakan kendala biaya kuliah akhirnya memutuskan masuk ke Perguruan Tinggi Kedinasan yg GRATIS lulus langsung PNS tanpa tes. Dan setelah itu sepertinya takdir saya sudah ditentukan menjadi PNS di salah satu instansi negara bernama BPS.

Saya lulus kuliah lalu berangkat penempatan, mulai bekerja. Gaji pas2an dengan tunjangan daerah yg tidak sepadan dengan harga sembako di daerah tidak menyurutkan niat saya untuk bekerja. Dulu saya penempatan Pegunungan Bintang (silahkan cek di peta ada disebelah puncak tertinggi Jayawijaya) yg harga beras per kilonya dulu tahun 2010 saja sekitar 800rb sekarung isi 10kg. Sayur seikatnya 15rb. Jangan ditanya bahan2 lain. Sedangkan gaji dan tunjangan hanya sampai di angka 3,5jt. Saya menikah ikut suami pindah ke tangerang. Masih semangat kerja sampe sore atau malam. Berhubung suami juga jarang dirumah karena sering dinas. Semua masih terasa indah2 aja.

Mulailah kegalauan saya saat hamil anak pertama. Flek dan pendarahan karena kecapaian di lapangan, bed rest 5 bulan. Bayangkan saya 5 bulan hanya dikasur saja begitu. Galau saat meninggalkan anak untuk mulai bekerja. Tapi sungguh itu masih bisa saya lewati. Anak kedua kembali saya flek, untuk sebab yg sama, kecapaian di lapangan. Pikiran2 untuk resign sering sekali muncul. Badan saya lelah luar biasa, tapi sungguh jiwa saya lebih lelah. Meski dengan pembantu 2 orang dirumah (satu mbak pegang satu anak agar fokus) saya masih lelah. Rutinitas pagi saya adalah masak menyiapkan makanan, berangkat bekerja, pulang kerja masak makan malam. Kalau ada kerjaan sampai sore atau malam, saya beli makan. Sesampainya dirumah yg saya berikan kepada anak2 adalah sisa2 tenaga saya yg nyaris habis. Saya mengalami baby blues, terkadang keinginan untuk menyakiti diri sendiri dan anak muncul. Apalagi jika dalam kondisi lelah, pulang kerumah anak pertama sedang dalam masa sering tantrum, rasanya saya sering hilang kendali. Saya sakit. Jiwa saya sakit. Yang saya inginkan sampai dirumah tidur dan istirahat. Tapi tidak bisa, saya masih begadang menyusui anak kedua, masih pumping di malam hari, bangun kurang tidur mengulangi rutinitas yg sama. Suami pulang dinas saya bekerja, akhirnya demi kuntitas waktu bersama saya ajak suami ke lapangan yg akibatnya suami pulang dinas cape ingin istirahat tapi akhirnya dengan rela hati mengantarkan saya ke lapangan demi kami punya waktu bersama meski hanya sekedar mengobrol di mobil. Saya libur suami bekerja, sudah waktu kami masing2 saja. Padahal sesungguhnya obat penghilang galau terbesar Ibu2 itu adalah suaminya. Waktu bersama suami itu menjadi baterai semangat untuk saya.

Sampai suatu ketika pembantu saya kabur dua2nya sekaligus saat dini hari, tepat dimana saya harus berangkat pelatihan ke luar kota. Akhirnya anak2 saya bawa semua. Saya menyerah. Saya tidak sanggup lagi. Saya putuskan untuk resign. Banyak orang berkata untuk memikirkan kembali keputusan saya, ga sayang PNS nya? Nanti kalau anak2 sudah besar juga ga terlalu repot kok, ini karena masih kecil aja. Kalau anak2 sudah besar kamu mau bikin apa dirumah? Bosen loh dirumah. kepala kantor mengusulkan untuk cuti 2 thn. Kan nanti kalau sudah 2 thn anak sudah besar setelah itu bisa kembali bekerja. Usul yg bagus tapi saat itu saya tidak bisa memutuskan. Orang tua saya marah. Suami saya menyerahkan semua kepada saya. Lakukan yg membuatmu bahagia dan saya pasti dukung katanya. Saya dinginkan kepala. Memutuskan tidak dengan emosi tapi dengan logika dan rasional.

Pertimbangan demi pertimbangan, perbandingan demi perbandingan :
* Apa alasan seorang wanita bekerja? Alasan pertama pasti karena gajinya. Oke secara finansial kita bandingkan. Kalau bekerja penghasilan saya gaji sekian, ditambah tunjangan yg seringnya terpotong banyaaakk sekali karena tidak masuk, ijin alasan anak. Pengeluaran kalau bekerja, Makan siang, Transport PP rumah ke kantor, dan yg besar adalah pengeluaran untuk transport ke lapangan karena biasanya transport yg diberikan tidak bisa menutupi biaya transport realnya (upah transport 11rb. sedangkan biaya PP kantor-lapangan sebesar 30rb). Kenapa ga pakai motor kantor? saya ga bisa bawa motor. Kenapa ga nebeng? Ga semua bisa ditebengin. Ya itu kan udah tanggung jawab dapet gaji kan? Ini jadi bahan untuk iri-irian antara yg kerja di lapangan sama di kantor aja. Lalu ditambah kalau bekerja saya harus ada pengeluaran untuk mbak 2 orang yg gaji sebulan mereka berdua diatas gaji sebulannya saya. Sedangkan kalau saya dirumah jelas saya bisa irit transport, irit biaya makan karena masak, irit karena pakai mbak hanya satu atau bahkan tidak pakai sama skali. Sudahlah dari perhitungan finansial saya lebih baik dirumah.

* Alasan kedua selain gaji itu biasanya aktualisasi diri. Katanya kalau bekerja status sosial wanita itu sendiri naik, Kecerdasan emosinya lebih baik, Bisa ngobrol haha hihi, ga bosen dirumah. Okey baiklah untuk ini saya agak setuju. Setelah 2 tahun saya dirumah menjadi ibu rumah tangga mungkin hal inilah yg paling terasa. Saya dirumah 6 hari x 24 jam. karena di hari ketujuh suami pulang dan saya keluar rumah hahaha.. dalam 6 hari tersebut, saya cuma bersosialisasi dengan HP, TV dan anak2 :D Bosen? Anehnya tidak. Rasanya dari bangun tidur sampai malam mau tidur lagi gak kerasa. Semua berjalan terasa cepat. Karena apa? Banyak kerjaannya! Ada aja yg dikerjain. Tapi sesibuk apapun tetap aja ga rapi itu rumah hahahaha... Rasanya pengen sekali2 ngobrol dengan tetangga atau siapa gitu makhluk hidup diluar rumah, tapi ga bisa. Untuk keluar rumah siram tanaman aja saya buru2 ditangisin bocah2. Penghiburan saya kalau sudah "bosan" dengan anak2 adalah sosmed. Internet adalah cara saya untuk aktualisasi diri. Ya dengan menulis blog. Ya dengan menyapa teman2 di dunia maya. Tentu harus balance dengan memperhatikan kebutuhan jasmani dan sosial anak2. Jangan sampai asik dengan dunia maya sampai anak2 lupa diajak ngobrol. Tapi ga bakal lupa sih, anak2 saya itu kalau dicuekin dikit ga bisa. Yang ada pasti digangguin terus mamanya. hehhe.. Hp dipegang kalau anak2 sedang tidur atau lagi punya waktunya sendiri. Atau dengan mencoba resep2 baru yg dulu susah sekali mencari waktunya. Tapi dirumah saat lowong saya bisa mencoba semua hal baru yg ingin saya lakukan.

* Pertimbangan PNS - jaminan tidak dipecat, fasilitas BPJS, fasilitas Taspen (pensiun dapat uang). Kata siapa PNS tidak bisa dipecat? bisa kalii cuma jarang hehe. Saya tipe orang yg tidak kawatir mengenai PNS atau bukan, Rejeki ditangan Tuhan itu yg saya yakini. Meski saya tidak bekerja, saya percaya pendapatan yg diterima satu keluarga pasti akan sama. Terbukti sejak saya resign suami pendapatannya naik meski imbasnya jadi makin jarang dirumah sih. BPJS sudah saya alihkan menjadi pembayaran mandiri. Sedangkan mengenai taspen, saya alihkan ke investasi jenis lain yg ujung2nya sama manfaatnya untuk tabungan pensiun. Beres

* Pertimbangan lain dan yg paling utama sebenernya adalah suami dan anak2. Kalau saat bekerja waktu saya terbatas hanya sore dan malam untuk anak2. Sedangkan untuk suami ini seringnya curi2 waktu sambil kelapangan. Setelah resign, seharian bersama anak2, suami pulang dinas saya sepenuhnya untuk suami (asekk :D) bebas mau jalan kemana aja, ga perlu kawatir weekend atau weekdays. Pokoknya suami pulang kita jalan.

Tapiiiii jangan dijadikan ini patokan ya, beberapa teman (wanita) bilang mau resign dan nanya pertimbangannya, ya bedaaaaa.. kebetulan di situasi saya ya lebih menguntungkan kalau resign. Kalau ada yg dipercaya untuk jagain anak2mu (mertua misalnya) ya ga usah resign, kalau suami liburnya bareng2 pas weekend ya jangan resign, kalau penghasilan lebih besar dibanding pengeluaran ya jangan resign. Situasi saya karena memang pertimbangannya seperti diatas tadi. Banyak kok teman2 yg bisa bekerja dan menjadi ibu2 yg super, keluarga bisa aman tentram sejahtera diurus. Bisa kok... Rumput sya keliatan lebih hijau? mungkin karena status2 saya menggembirakan ya? Mungkin karena saya "terlihat" lebih bahagia dibanding status saat masih bekerja? Itu semua terkadang hanya masalah persepsi saja. Apa yg ditangkap kasat mata oleh orang lain yg terkadang tidak sehijau itu juga kok. Kita hanya perlu bersyukur dan bahagia karena bahagia itu keputusan. Bahagia kita tidak ditentukan oleh situasi tapi oleh diri kita sendiri.

Pernah ditanya, kalau dulu saya ambil CLTN, setelah 2 tahun saya pilih balik bekerja atau tetap resign? Saya akan pilih resign. Soal mana yg lebih cape? saya sih lebih cape fisik dirumah, kalau cape hati jelas lebih cape pas kerja. :) Pilihan aja sih, ada juga kok ibu2 yg bekerja dengan alasan cape kalau dirumah. Ada? Ada banget. Mereka lebih suka bekerja diluaran karena kalau dirumah bawaan bosen, cape ngadepin segala tingkah laku anak2, cape ngurusin rumah. Mending bayar orang buat ngurusin rumah dan anak2, jadi pas mereka pulang hati senang, anak2 pun riang. Salah? Ga juga sih. Yang penting anak2 mereka happy, tercukupi kebutuhan jasmani dan rohaninya terutama mentalnya. Daripada mereka dirumah jadi ngomel2 terus, anak2 malah jadi ga sehat jiwa? Lebih baik begitu kan? Cuma ada plus minusnya juga. Jangan sampai nanti pas anak2 besar jadi anak2 yg ga betah dirumah juga. Jadi lebih senang sama teman2nya daripada sama orang tuanya. Jangan sampai anak2 kita lebih merasa diluar sana lebih seru karena ibu bapaknya juga merasa teman2 dan kerjanya lebih seru dibanding seharian sama anak2. Hukum tabur tuai ya. Ada juga yg bilang kerja buat keluarga, ini semua demi anak2. Teman saya ada yg pulang kerja jam 10 malam saat anak2nya sudah tidur, berangkat pagi saat anaknya masih tidur. Jadi waktu weekend ga mau diganggu karena itu hari khusus keluarga. Sekali lagi itu pilihan. Yang tau seimbang atau tidak itu kita sendiri. Kalau kita liat anak2 masih lebih suka sama orangtuanya dibanding sama mbaknya ya berarti aman kan. Tapi kalau gelagatnya sudah lebih senang kalau sama mbaknya atau sama temannya, coba dicek lagi ya.. sudah betul seimbang?

Kalau terpaksa bekerja gimana? Bagi single parent atau yg Gaji suaminya ga cukup untuk kebutuhan sehari2? Jalani saja sebaik2nya.. Bersyukur masih ada pekerjaan, Bersyukur untuk setiap waktu (meski sedikit) bersama keluarga, dan selalu berikan yg terbaik untuk keluarga. Tidak semua orang seberuntung saya saat mau resign semua dimudahkan. Pertimbangkan dari semua aspek. Mana yg lebih baik, mana yg lebih membuatmu bahagia, mana yg membuat keluarga bahagia. Bukankah semua ini memang demi keluarga? demi masa depan anak2? Masa depan anak2 bukan berarti hanya menyangkut uang kuliah loh, tapi bagaimana memenuhi kebutuhan emosionalnya anak2, bagaimana pembentukan karakter mereka. Karena Karakter anak2 kita dibentuk dari sejak kecil. Proses. tidak instan terjadi begitu saja. Bagaimana didikan karakter mereka sekarang sangat berpengaruh untuk bagaimana mereka survive di masa depan. Yakin mereka ditangan yg tepat untuk pembentukan karakter?? Apa yg akan diajarkan pengasuhnya itu yg membentuk mereka. Bersyukurlah kalau anak2 diasuh oleh nenek atau kakeknya. Bukankah salah satu hasil pola pengasuhan mereka adalah kita? :)

Lakukan apa yg membuatmu bahagia. Lakukan apa yg membuat keluargamu bahagia. Lalu Jalanilah dengan sebaik2nya dan selalu bersyukur. Karena diluar sana mungkin ada orang lain yg bersedia bertukar tempat untuk berada di posisimu saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Template by Rumah Es