It’s Okay To Not Be Okay

 


Sometimes it’s okay to not be okay

It’s okey to show your weakness, your tears, your desperate


Beberapa waktu lalu, aku ikut seminar online mengenai emosi. Ini bukan bicara mengenai emosi amarah saja, tapi berbagai jenis emosi. Bahwa emosi yang dipendam (tidak dikeluarkan) suatu saat akan “memanifestasikan” dirinya ke fisik (penyakit atau alergi).


Pas ikut itu, aku gak merasa apaaa gitu. Kondisi sehat kok, sehari-hari berjalan yaaa gitu aja. Sesekali seperti terburu-buru mengejar waktu, mengoceh biar anak-anak bergerak cepat, ya tapi berlalu begitu aja. Besoknya melakukan rutinitas yang sama. Gak ada emosi meluap-luap atau psikosomatis yang muncul. Biasanya kalau lagi “down” suka muncul psikosomatis seperti jantung berdebar, sesak nafas, tremor. Ini gak. Jadi aku merasa aku baik-baik saja.


Sampai aku merasa mukaku mulai jerawatan, muka beruntusan, jerawatnya pun bukan jerawat karena muka kotor, tapi jerawat kecil-kecil kasar dan kering. Kadang badan juga mulai bintik merah dan gatal seperti kena alergi. Padahal gak ada makanan atau trigger untuk alergi. Disitu aku sadar, ini stresnya manifestasi ke hal lain. Rupanya dia beda bentuk sekarang hahaha.


Hal pertama adalah mencari tau apa nih penyebab utamanya. kenapa aku begini, kenapa aku begitu. Terkadang inspirasi dan jawaban ditemukan saat mengobrol dengan orang lain (tidak tergantung dari bahasan. Bisa membahas apapun), atau dari self talk. Seperti menulis atau berdialog dengan diri sendiri. Ini makanya diperlukan waktu khusus dan privasi.


Self talk, dibilang pusing mengajar anak-anak gak juga. Aku termasuk santai mengenai perkembangan studi mereka. Finance juga yaudahlah, soal itu aku gak bisa ngapa-ngapain juga. Akan selesai pada waktunya nunggu corona berlalu. Bertahan sebisanya. Berjalan sekuatnya. 


Sampai aku cerita ke suami kalau aku kayaknya lagi aneh nih. Dia cuma bilang “standarmu itu diturunin. Gak apa-apa kok kalau kamu gak mencapai standarmu. Gak ada yang menyalahkanmu” dan aku jawab “Tapi aku menyalahkan diriku sendiri kalau gak mencapai standar itu. Standarku itu baik. DIbawah itu menurutku tidak baik” Aku merasa harus “kuat”, dan harus “bisa” mengerjakan semuanya. 


oke, rupanya masalahnya ada pada sifat perfeksionisku.


Aku punya target harian apa yang akan aku kerjakan, aku bereskan dan aku ajarkan. Ketika target harianku tidak tercapai, aku merasa gagal. Karena itu akan menjadi PR ku besok hari. Jadi besok hari aku akan mengejar target kemaren dan target hari ini. Itu membuat aku “rusuh” dan “gusar”.


Kedua, mulai terapi. Salah satu teknik terapi yang diajarkan di seminar itu melalui art. Art ini bisa banyak jenisnya, bisa tulisan, gambar, karya seni 3 dimensi seperti patung, mewarnai, menyanyi, main musik, mana saja yang memang disukai. Jadi terapi untuk setiap orang akan berbeda. Pilihlah mana yang paling kamu sukai.


Dan karena ini bukan mengenai karya bagus atau tidak, jadi tidak usah dipusingkan dengan “aku gak bisa gambar atau aku ga bisa menyanyi” karena ini adalah terapi, yang penting kamu lakukan dengan hati gembira.


Intinya sama, awalnya adalah membuat suatu karya seni sambil membayangkan apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Melihat hasilnya, dan mulai menerima bahwa oke saya sedang mempunyai emosi negatif tapi aku putuskan untuk melepasnya dan menggantinya dengan emosi yang positif. Release emosinya, forgive and thank you karena masih bisa merasakan dan mengalami juga belajar dari ini. Setelah itu adalah membuat karya seni lain. Lalu setelah itu bisa dibandingkan karya seni sebelum dan sesudahnya. Ini lebih ke seni gambar ya.


Kalau menulis ya kayak aku ini. wkwkwk. Iya aku tuh kalau menulis, ya memang karena aku butuh untuk menulis. Cara untuk release emosinya (self talknya) dengan menulis, menyanyi, main musik. Mana-mana tergantung lagi mau ngoceh atau males ngomong. Biasanya kalau udah berat banget malah gak bisa nulis.


Trus gimana? Yaudah, mukaku masih jerawatan, aku masih stress. Aku masih terbebani dengan segala rutinitas baru ini. Tapi langkah utama menuju “kesembuhan” itu adalah mengetahui kalau kita sedang “sakit” dan butuh bantuan bukan? Iya, aku masih terapi setiap hari. Mengurangi standar dan sifat perfeksionis itu sungguh tidak mudah. Aku merasa itu tidak benar wkwkwkwk. Menerima bahwa gak apa kok kalau kamu sedang lemah, gak apa kok kalau sedang down, gak apa kok kalau kamu perlu istirahat, gak apa kok… karena yang menuntut kesempurnaan itu sebenarnya hanya diriku sendiri.


Masih 3 bulan lagi menuju tahun baru. Hang in there,Ran...

All is well.. all is well..

Comments

Postingan terpopuler

Mesin Jahit Portable Mini S2 bermasalah? Perbaiki sendiri yuk

[Review] Laneige Water Bank series ~ Trial Kit

Resign dari PNS