My Dark Side



Sudah hampir tengah malam, tapi saya harus menulis sesuatu

2 bulan kebelakang bukan waktu terbaik saya, saya menjadi mudah lelah, ingin tidur seharian, mulai berpikir aneh-aneh (literally bad thoughts) , mudah emosi, mudah menangis meski hanya karena melihat adegan film gak jelas (padahal biasanya bahkan film titanic aja gak bisa bikin aku menangis), jantung berdebar, sesak nafas, mules dan mual setiap mulai memikirkan sesuatu. Ya, saya rasa itu semua karena psikosomatis.

dan menjadi orang yang sangat menjengkelkan

Sebagai seorang ambivert, penampakan luar sungguh sangat baik, jika kamu melihat sosial media saya maka yang akan kamu temukan adalah cerita-cerita lucu tentang keseharian saya, foto anak-anak dan keseharian yang harmonis, semua terlihat sangat baik.

yang tidak kamu ketahui adalah, saya sedang fight for depression and anxiety disorder

sangat mudah menampilkan semua kebahagiaan di sosial media. semua orang mempercayainya. semua orang mempunyai kesimpulan mengenai betapa indahnya hidup saya. Saya tidak kekurangan apapun, punya suami ganteng, pekerjaan yang ya bisa dibilang pekerjaan yang mapan, anak-anak penurut, periang, mungkin sesekali berantem tapi tampaknya saya sangat baik berperan sebagai ibu rumah tangga yang luwes, istri yang cakap. Bukan begitu? 

Jika saya mengatakan hal sebaliknya semua akan bertanya "kenapa? kamu tidak punya alasan untuk tidak bahagia" ya, benar. Saya akan mudah dinilai menjadi orang yang tidak bersyukur dan mulai diberi petuah betapa tidak semua orang seberuntung saya.

saya ingin berteriak, saya ingin membicarakan hal ini dengan seseorang (ya saya membicarakannya kepada suami juga), saya ingin ada yang memahami dengan jelas apa yang sedang saya hadapi tanpa berkata "semua akan baik-baik saja. kamu harus kuat dan semangat. banyak-banyak berdoa dan bersyukur" ---> I hate this words. Dan karena kalimat seperti inilah akhirnya saya hanya berpura-pura bahagia dan berkata "I'm fine" 

Seriously, bahkan kamu tidak mengerti seujung jaripun apa yang sedang saya rasakan. But you can learn to understand if you want

let me tell you something
"Depression is a lot like drowning except that you can see everyone else around you breathing"

Jika kamu bisa memahami ini, maka kamu akan mengerti mengapa bahkan icon film komedi seperti Robin William saja bisa melakukan suicide.

ah, it's not the point.. saya melantur terlalu jauh

yang ingin saya katakan disini adalah, saya menyadari satu hal bahwa saya punya kecenderungan membentuk pola "hidup sendiri" seperti sherlock holmes. Saya menyadari dari usia remaja bahkan saya punya keinginan untuk hidup sendiri terlepas dari orang tua. Bahkan saya pernah punya imajinasi saat saya diharuskan hidup sendiri tanpa keluarga. It'll be cool pikir saya dulu.

Buat saya menjadi sendiri adalah hal yang baik. Saya merasa bisa melakukan semua sendiri tanpa harus tergantung dengan orang lain --> dan para orang nyinyiers menyebalkan akan mulai berkotbah "kita ga bisa hidup sendiri, kamu akan selalu perlu orang lain" Plis people, saya gak butuh nasihat seperti itu, karena saya tau semua teori itu! Percayalah, semua teori itu sudah saya makan semua.
Yang saya butuhkan hanya telinga yang mau mendengar, bukan mulut yang memberi nasihat menghakimi.

Maksudnya adalah "Lo suka bangun hubungan sama gue, ayok! Tapi kalau gue atau lo bentrok ga masalah kalau lo pergi juga. Gw bisa sendiri kok" Begitulah kira-kira

dan ternyata pola ini sudah berlangsung dari remaja sampai saat ini. Dalam pekerjaan, saya gak suka kerjanya gini, ya saya resign. Saya ga suka sama dia karena dia kok salah sangka sama saya, ga usah temenan. Saya ga suka dia merasa dirinya paling oke dan selalu menasehati saya maka saya menjaga jarak. Sesimple itu. Teman datang dan pergi. 

Bahkan keluarga saya (orang tua dan adik-adik) saya tidak tau mengenai hal ini karena kami berjauhan. Hanya suami saya yang tau. Dan dari segala hal, all of this stuff.. satu yang membuat saya bersyukur adalah karena suami saya tidak pernah melepaskan saya. Dia selalu menggenggam erat saya. Berapa kali pun saya meminta pergi, tidak pernah dia punya keinginan untuk melepaskan saya. Sebegitu menyebalkannya saya, sebegitu banyak hal yang saya tau sangat menguras emosinya, tapi dia selalu memegang saya dengan erat.

Terimakasih Tuhan, masih ada satu orang yang mencintai saya dengan sepenuh hatinya dengan segala keburukan saya dan dengan segala aneh-aneh saya ini. He is "My Watson". Seyakin-yakinnya saya bisa hidup sendiri, pada akhirnya adalah ternyata saya tidak bisa kalau tidak ada dia. Dia sudah menjadi separuh bagian hidup saya.

Tulisan kali ini saya hanya ingin menulis
Tidak mencari empati, tidak mencari belas kasihan
Gak butuh juga
Saya tau saya kuat, saya biasanya kuat kok
Cuma untuk waktu ini, rasanya "achiles" saya sedang terluka
dan saya perlu secepatnya menjadi sehat kembali
Bantulah saya dengan menyapa atau mengobrol barangkali
It is helpful
Terimakasih ya

Comments

Popular posts from this blog

Mesin Jahit Portable Mini S2 bermasalah? Perbaiki sendiri yuk

[Review] Laneige Water Bank series ~ Trial Kit

Resign dari PNS